01.53 AM
Jumat 01.30 AM
Di rumah ponorogo
Oke, ini adalah minggu terburuk mungkin yang pernah
aku alami. Nenek yang tidak begitu akrab meninggal minggu kemarin. FYI aku
mulai liburan sabtu kemarin dengan membawa seabrek masalah terutama masalah
kesehatan. Masalah yang menjangkiti diriku bukan cuma itu saja. Tapi ada
masalah personal yang tidak bisa diselesaikan. FYI lagi, aku termasuk orang
yang tidak sabaran, ketika mengalami masalah sebisa mungkin hari itu harus
diselesaikan. Tapi masalah personal yang aku utarakan disini tidak bisa
diselesaikan hanya dalam waktu sehari.
Pemakaman? Kematian? Harusnya aura kesedihan
terpancar dari setiap prosesi dua kata tersebut. Tapi kenyataan? Ketika jenazah
nenek disemayamkan di rumah duka, pelayat tertawa-tawa, seolah-olah sedang
menghadiri acara hajatan besar. Disitu, disamping tubuh nenek yang membeku,
hanya anggota keluarga saja yang betul-betul mengeluarkan aura kesedihan.
Disamping mereka, walaupun berpakaian serba hitam tawa tetap menghiasi wajah
mereka.
Di jawa, ada sebuah tradisi dimana ketika seorang
meninggal akan ada ritual untuk mengirim doa kepadanya agar bisa selamat di
akhirat nanti. Ritual ini berbeda-beda sesuai dengan daerah masing-masing.
Daerahku? akan ada tahlilan untuk mengirim doa kepada yang meninggal selama
tujuh hari berturut-turut. Terdengar seperti ritual yang benar-benar manusiawi.
Mendoakan orang yang meninggal dan berharap yang terbaik untuknya.
Kenyataan? Aura kesedihan tidak tampak sama sekali.
Ritual itu penuh dengan tawa. Ustadz pemberi tausiyah bercanda dengan nyamannya
dihadapan hadirin. Materinya pun juga tidak nyambung dengan kematian atau
pemakaman. Hadirin? tidak usah dipikirkan lagi. Di wajah mereka sudah tidak ada
aura kesedihan. Hanya ada wajah kekenyakan sehabis menyantap makanan dari yang
punya hajat (keluarga yang ditinggalkan)
Kemanusiaan itu apa? Pelajaran moral? Moral? Apakah
semua itu hanyalah syarat kelulusan? Apakah pelajaran PKN dan agama tentang
kemanusiaan hanyalah sebuah pemanis di laporan belajar ketika akhir semester?
Masalah ini tentu tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Masalah tipe seperti
ini yang membuatku frustasi.
Aku sudah belajar banyak tentang bagaimana
seharusnya moral itu dibentuk. Semua utopia itu terkesan sangat kaku ketika
dosen harus dijilat untuk mendapat torehan nilai A di laporan akhirmu. Tapi,
dimana rasa kemanusiaan itu benar-benar ada? Apakah kita harus belajar ke
fakultas filsafat? Mendalami semua teori-teori utopis pemanis kehidupan?
Manusia? Kemanusiaan? Sense of humanity.
Memanusiakan manusia. Menghargai manusia lain untuk menjadi seorang manusia
seutuhnya. Puluhan definisi akan kamu temukan apabila mengetik “kemanusiaan” di
google. Manusia memang rumit. Mereka menciptakan ribuan pemikiran tapi sangat
sulit menyatukan pikiran. Musyawarah dan mufakat Kata sila keempat di
pancasila. Tapi kenyataan? Butuh ribuan tetes keringat hanya untuk mengambil
sebuah keputusan krusial. Semua tetap pada pendiriannya, tetap pada
keringatnya. Pada akhirnya ketika keputusan itu dibuat, sense of humanity sudah
menguap diangkasa.
01.53 AM.
Kemanusiaan?


0 comments: