Ini Ceritaku!

Sunday, July 6, 2014

0 comments

01.53 AM

Jumat 01.30 AM

Di rumah ponorogo

Oke, ini adalah minggu terburuk mungkin yang pernah aku alami. Nenek yang tidak begitu akrab meninggal minggu kemarin. FYI aku mulai liburan sabtu kemarin dengan membawa seabrek masalah terutama masalah kesehatan. Masalah yang menjangkiti diriku bukan cuma itu saja. Tapi ada masalah personal yang tidak bisa diselesaikan. FYI lagi, aku termasuk orang yang tidak sabaran, ketika mengalami masalah sebisa mungkin hari itu harus diselesaikan. Tapi masalah personal yang aku utarakan disini tidak bisa diselesaikan hanya dalam waktu sehari.

Pemakaman? Kematian? Harusnya aura kesedihan terpancar dari setiap prosesi dua kata tersebut. Tapi kenyataan? Ketika jenazah nenek disemayamkan di rumah duka, pelayat tertawa-tawa, seolah-olah sedang menghadiri acara hajatan besar. Disitu, disamping tubuh nenek yang membeku, hanya anggota keluarga saja yang betul-betul mengeluarkan aura kesedihan. Disamping mereka, walaupun berpakaian serba hitam tawa tetap menghiasi wajah mereka.

Di jawa, ada sebuah tradisi dimana ketika seorang meninggal akan ada ritual untuk mengirim doa kepadanya agar bisa selamat di akhirat nanti. Ritual ini berbeda-beda sesuai dengan daerah masing-masing. Daerahku? akan ada tahlilan untuk mengirim doa kepada yang meninggal selama tujuh hari berturut-turut. Terdengar seperti ritual yang benar-benar manusiawi. Mendoakan orang yang meninggal dan berharap yang terbaik untuknya.

Kenyataan? Aura kesedihan tidak tampak sama sekali. Ritual itu penuh dengan tawa. Ustadz pemberi tausiyah bercanda dengan nyamannya dihadapan hadirin. Materinya pun juga tidak nyambung dengan kematian atau pemakaman. Hadirin? tidak usah dipikirkan lagi. Di wajah mereka sudah tidak ada aura kesedihan. Hanya ada wajah kekenyakan sehabis menyantap makanan dari yang punya hajat (keluarga yang ditinggalkan)

Kemanusiaan itu apa? Pelajaran moral? Moral? Apakah semua itu hanyalah syarat kelulusan? Apakah pelajaran PKN dan agama tentang kemanusiaan hanyalah sebuah pemanis di laporan belajar ketika akhir semester? Masalah ini tentu tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Masalah tipe seperti ini yang membuatku frustasi.

Aku sudah belajar banyak tentang bagaimana seharusnya moral itu dibentuk. Semua utopia itu terkesan sangat kaku ketika dosen harus dijilat untuk mendapat torehan nilai A di laporan akhirmu. Tapi, dimana rasa kemanusiaan itu benar-benar ada? Apakah kita harus belajar ke fakultas filsafat? Mendalami semua teori-teori utopis pemanis kehidupan?

Manusia? Kemanusiaan? Sense of humanity. Memanusiakan manusia. Menghargai manusia lain untuk menjadi seorang manusia seutuhnya. Puluhan definisi akan kamu temukan apabila mengetik “kemanusiaan” di google. Manusia memang rumit. Mereka menciptakan ribuan pemikiran tapi sangat sulit menyatukan pikiran. Musyawarah dan mufakat Kata sila keempat di pancasila. Tapi kenyataan? Butuh ribuan tetes keringat hanya untuk mengambil sebuah keputusan krusial. Semua tetap pada pendiriannya, tetap pada keringatnya. Pada akhirnya ketika keputusan itu dibuat, sense of humanity sudah menguap diangkasa.

01.53 AM.


Kemanusiaan?

0 comments:

Ini Opiniku, Ini ruangku, Ini adalah aku
Tak Masalah tentang apa yang aku tulis disini, karena semua ini hanyalah opini belaka.